Kontroversi yang membelenggu Nicki Minaj akibat keputusannya untuk tampil bulan ini dalam Festival Dunia Jeddah di Arab Saudi mendapat dorongan dari surat terbuka yang dilayangkan oleh Organisasi HAM (Human Rights Foundation/HRF). HRF meminta Nicki Minaj agar membatalkan penampilannya terkait dengan adanya rezim pelanggar hak-hak asasi manusia jutaan warga Arab Saudi. Seperti yang dilaporkan oleh Hollywood Reporter, festival ini bebas alkohol dan akan disaksikan oleh warga yang berusia 16 tahun keatas dimana para perempuan Arab akan mengenakan pakaian yang serba tertutup dan berada di area terpisah dengan kaum laki-laki saat menonton.

”Nona Minaj, seperti yang Anda lihat, Anda telah dijadwalkan untuk tampil dalam sebuah festival yang disponsori oleh salah satu negara pelanggar hak asasi manusia di dunia dan mempelopori kampanye anti belas kasihan untuk membungkam para aktivis pembela HAM perempuan,” kata CEO HRF Thor Halvorssen dalam suratnya.

“Banyak perempuan yang mendukung untuk mencabut larangan mengemudi di Arab Saudi yang saat ini masih berada di dalam penjara dan menjadi subjek penyiksaan termasuk dihukum dengan cara disetrum, dicambuk, dan diperkosa.” Halvorssen juga menunjuk pada kenyataan bahwa Minaj baru-baru ini memberi dukungan terhadap komunitas U.S. LGBTQ dan menjelaskan dengan tetap tampil pada festival ini maka hal tersebut tidak masuk akal. “Tiga bulan yang lalu lima orang laki-laki yang mengaku gay telah disiksa dan dihukum penggal, jika Anda tetap maju untuk tampil dalam festival yang disponsori oleh Pangeran Mohammed bin Salman, maka Anda sama saja bersekutu dengan orang-orang yang mengendalikan kebebasan berekspresi dan berpikir bersama para pembunuh.”

Kontroversi ini bukan yang pertama bagi Nicki Minaj. Sebelumnya, Nicki Minaj pernah dikritik pula oleh HRF dan yang lainnya karena telah sepakat untuk tampil di depan Presiden Jose Eduardo dos Santos dan keluarganya di Angola pada 2015 silam.